
PENDIDIKAN – Kabut asap akibat kebakaran hutan dan lahan (karhutla) kembali mengganggu aktivitas masyarakat di Sumatra Utara. Dampaknya terasa hingga ke dunia pendidikan, ketika sejumlah sekolah terpaksa mengubah cara belajar mengajar. Sekolah di provinsi tersebut menerapkan pembelajaran jarak jauh (PJJ) hingga 21 Oktober 2026. Kebijakan ini diambil demi melindungi kesehatan peserta didik dan tenaga pendidik. Dengan demikian, kegiatan belajar tidak lagi dilakukan di ruang kelas selama masa tersebut.
Keputusan menerapkan PJJ didasari oleh kualitas udara yang memburuk akibat asap karhutla. Udara yang tercemar dapat mengganggu pernapasan, terutama pada anak-anak dan remaja. Perjalanan siswa dari rumah ke sekolah juga berisiko karena mereka harus terpapar asap di luar ruangan. Selain itu, jarak pandang yang terbatas dapat membahayakan keselamatan di jalan raya. Oleh karena itu, belajar dari rumah dinilai sebagai langkah paling aman untuk saat ini.
Dalam pelaksanaannya, PJJ memanfaatkan perangkat digital dan jaringan internet. Guru menyampaikan materi melalui aplikasi pesan, platform pembelajaran, atau pertemuan daring. Siswa diminta mengikuti pelajaran sesuai jadwal yang telah ditetapkan oleh sekolah masing-masing. Tugas-tugas dikumpulkan secara daring agar proses belajar tetap berjalan tertib. Meskipun berbeda dari biasanya, target pembelajaran diharapkan tetap tercapai.
Selain kegiatan belajar, program makanan bergizi gratis juga ikut terdampak. Pemberian makanan bergizi gratis dihentikan sementara selama PJJ berlangsung. Penghentian ini bersifat sementara dan akan menyesuaikan dengan berakhirnya masa pembelajaran jarak jauh. Program tersebut biasanya dibagikan langsung kepada siswa di lingkungan sekolah. Karena siswa belajar dari rumah, penyaluran makanan belum dapat dilakukan seperti biasa.
Penghentian sementara program makanan bergizi gratis memiliki alasan yang masuk akal. Pembagian makanan memerlukan pengumpulan siswa dalam jumlah besar di satu tempat. Kerumunan semacam itu justru bertentangan dengan tujuan melindungi anak dari paparan asap. Di samping itu, menjaga mutu dan keamanan makanan juga lebih sulit jika penyalurannya dilakukan secara terpisah-pisah. Dengan menunda penyaluran, pihak terkait berharap program dapat kembali berjalan optimal setelah kondisi membaik.
Paparan asap karhutla membawa ancaman nyata bagi kesehatan masyarakat. Partikel halus dalam asap dapat memicu batuk, sesak napas, dan iritasi pada mata. Kelompok yang paling rentan adalah anak-anak, lansia, dan orang dengan gangguan pernapasan. Karena itu, masyarakat dianjurkan mengurangi aktivitas di luar rumah dan memakai masker jika terpaksa keluar. Menjaga kondisi tubuh dengan istirahat cukup dan minum air putih juga sangat dianjurkan.
Orang tua memegang peran penting selama masa PJJ. Mereka perlu memastikan anak tetap belajar dengan disiplin meskipun berada di rumah. Pendampingan yang baik dapat membantu anak memahami materi dan menyelesaikan tugas tepat waktu. Orang tua juga perlu memperhatikan asupan gizi anak, terutama ketika makanan bergizi gratis belum dibagikan. Kerja sama antara rumah dan sekolah akan menentukan keberhasilan pembelajaran dalam situasi darurat ini.
Para guru pun dituntut untuk lebih kreatif dan adaptif. Materi pelajaran perlu dikemas secara ringkas dan mudah dipahami melalui layar. Guru juga perlu menjaga komunikasi dengan siswa agar mereka tetap termotivasi. Bagi siswa yang mengalami kendala jaringan atau perangkat, sekolah diharapkan menyediakan solusi yang adil. Dengan begitu, tidak ada anak yang tertinggal pelajaran hanya karena keterbatasan sarana.
Masalah karhutla sesungguhnya tidak dapat diselesaikan hanya dengan menutup sekolah. Pencegahan harus dilakukan sejak dini melalui pengawasan lahan dan penegakan hukum terhadap pembakar lahan. Masyarakat juga perlu menyadari bahwa membuka lahan dengan cara membakar merugikan banyak pihak. Pemerintah daerah bersama aparat dan warga perlu bergandengan tangan dalam memadamkan titik api. Upaya bersama ini penting agar kejadian serupa tidak terus berulang setiap tahun.
Pada akhirnya, kesehatan dan keselamatan anak harus menjadi prioritas utama. Penerapan PJJ hingga 21 Oktober 2026 merupakan langkah sementara untuk melindungi generasi muda dari bahaya asap. Penghentian makanan bergizi gratis selama masa tersebut juga diharapkan dapat dipahami oleh semua pihak. Semoga kualitas udara segera membaik sehingga sekolah dapat kembali dibuka. Dengan kerja sama yang baik, proses pendidikan di Sumatra Utara akan pulih dan berjalan seperti semula.
