
KOTA MEDAN – Pemerintah Provinsi Sumatera Utara menyatakan bahwa seluruh satuan pendidikan negeri jenjang SMA, SMK, dan SLB di wilayahnya telah teraliri listrik dan jaringan internet sepenuhnya. Pernyataan tersebut disampaikan melalui Dinas Pendidikan Provinsi Sumatera Utara sebagai laporan capaian kerja. Pemerataan tersebut diklaim menyentuh angka seratus persen tanpa menyisakan sekolah yang tertinggal. Capaian itu direalisasikan melalui Program Strategis Daerah atau PSD. Program ini dirancang khusus untuk menutup kesenjangan infrastruktur dasar antarsekolah di berbagai kabupaten dan kota.
Listrik dan internet kini tidak lagi dipandang sebagai fasilitas pelengkap dalam dunia pendidikan. Keduanya telah bergeser menjadi kebutuhan pokok yang menopang hampir seluruh aktivitas belajar mengajar. Tanpa aliran listrik yang stabil, perangkat pembelajaran digital tidak dapat dioperasikan sama sekali. Tanpa jaringan internet, akses terhadap sumber belajar daring menjadi tertutup rapat. Karena itu, pemenuhan kedua fasilitas tersebut menempati posisi strategis dalam agenda pembangunan pendidikan daerah.
Sekretaris Dinas Pendidikan Sumatera Utara, Terang Dewi Susantri Ujung, menjadi pihak yang menyampaikan perkembangan program tersebut kepada publik. Ia menjelaskan bahwa pemenuhan fasilitas dilakukan secara bertahap dengan memetakan kebutuhan setiap sekolah. Sejumlah sekolah ternyata berada di kawasan yang sulit dijangkau jaringan konvensional. Kondisi geografis menjadi tantangan tersendiri dalam proses penyaluran layanan. Pemetaan itu kemudian menjadi dasar penentuan jenis teknologi yang dipasang di tiap lokasi.
Untuk mengatasi kendala jaringan di daerah terpencil, Dinas Pendidikan memasang perangkat internet berbasis satelit. Teknologi Starlink dipilih dan dipasang di sejumlah sekolah yang tidak terjangkau kabel serat optik. Pilihan ini diambil karena layanan berbasis satelit tidak bergantung pada infrastruktur darat. Dengan demikian, sekolah di pelosok tetap dapat memperoleh kualitas sambungan yang memadai. Langkah tersebut menjadi jalan pintas yang efektif sekaligus efisien bagi wilayah dengan medan berat.
Dalam keterangannya pada Rabu, 16 September 2026, Terang Dewi menegaskan bahwa fasilitas listrik dan internet telah terealisasi di seluruh sekolah provinsi. Ia menyebutkan bahwa cakupannya meliputi jenjang SMA, SMK, sekaligus SLB. Menurutnya, pemasangan Starlink diharapkan membantu sekolah melaksanakan kegiatan digitalisasi pembelajaran. Ia juga menekankan bahwa capaian ini merupakan hasil kerja lintas bidang. Penyampaian tersebut sekaligus menjadi laporan resmi atas pelaksanaan program.
Realisasi program ini berkaitan erat dengan komitmen politik yang pernah disampaikan kepala daerah. Gubernur Sumatera Utara, Bobby Nasution, menyinggung persoalan tersebut dalam pidato perdananya di hadapan DPRD Sumatera Utara pada Maret 2025. Ketika itu, ia menargetkan pemenuhan fasilitas dasar sekolah dapat dirampungkan dalam tempo dua tahun. Target tersebut mencakup ketersediaan listrik dan internet yang layak bagi seluruh sekolah. Janji kerja itu kini dinyatakan telah tertunaikan oleh jajaran dinas terkait.
Sasaran program tidak berhenti pada pemasangan perangkat semata. Pemerintah provinsi menempatkan mutu infrastruktur sebagai pijakan awal peningkatan kualitas pembelajaran. Selain itu, peningkatan kapasitas tenaga pendidik turut menjadi bagian dari agenda yang dicanangkan. Guru diharapkan mampu memanfaatkan sarana digital secara produktif di ruang kelas. Dengan begitu, investasi perangkat dapat berbuah pada perbaikan proses belajar yang nyata.
Ketersediaan internet membuka ruang bagi praktik pembelajaran yang lebih beragam. Guru dapat menghadirkan simulasi, video eksperimen, hingga sumber rujukan mutakhir ke dalam kelas. Peserta didik pun memperoleh kesempatan mengakses bahan belajar yang sebelumnya sulit dijangkau. Kegiatan asesmen berbasis komputer juga dapat dilaksanakan tanpa hambatan teknis yang berarti. Pada akhirnya, jarak antara sekolah kota dan sekolah pelosok berpotensi menyempit.
Meskipun demikian, pemenuhan fasilitas fisik masih menyisakan pekerjaan lanjutan. Perangkat yang telah terpasang memerlukan pemeliharaan berkala agar tetap berfungsi optimal. Biaya langganan layanan satelit juga menuntut kepastian anggaran pada tahun-tahun berikutnya. Selain itu, pelatihan literasi digital bagi guru perlu dijalankan secara berkesinambungan. Tanpa dukungan tersebut, sarana yang tersedia berisiko tidak dimanfaatkan secara maksimal.
Capaian seratus persen ini layak dibaca sebagai titik awal, bukan garis akhir. Keberhasilan program sesungguhnya akan terukur dari perubahan mutu pembelajaran di ruang kelas. Pemerintah daerah, sekolah, dan masyarakat perlu menjaga keberlanjutan fasilitas yang telah dibangun. Pengawasan terhadap pemanfaatan sarana digital juga menjadi kebutuhan yang tidak dapat diabaikan. Dengan pengelolaan yang konsisten, pemerataan infrastruktur ini diharapkan benar-benar berdampak pada peningkatan kualitas pendidikan di Sumatera Utara.
